Tiga tahun yang lalu

Tiga tahun yang lalu teman saya meninggal karena kecelakaan. Saya selalu berharap memang demikianlah yang terjadi. Mengapa saya katakana demikian, karena kejadian yang sebenarnya sulit kami dapatkan. Sore itu ia pulang kuliah mengendarai sepeda motor dari Malang ke Batu. Menjelang sampai di rumah dia mengalami kecelakaan itu.
Kami semua, teman-temannya serumah, mendengar kabar itu agak terlambat. Dia sudah berada di rumah sakit. Cidera parah apda bagian kepala membuat kami tidak bisa mendapatkan keterangan darinya. Sementara itu orang-orang yang ada di sekitar kejadian juga tidak ada yang memberi kesaksian. Minimal untuk menjelaskan, apakah dia ditabrak, menabarak, atau tabrakan. Sebab hanya dia yang terluka, sedangkan ‘lawannya’ tidak pernah kami ketahui.

Kemudian baru kami ketahui mengapa orang-orang itu bungkam. Rupanya mereka takut untuk bersaksi, takut dijadikan saksi. “Nanti kami malah akan mendapat banyak kesulitan” demikian salah satu alasan yang pernah kami dengar.
Kami masih bertanya-tanya, kenapa banyak orang takut memberikan kesaksian yang benar. Rata-rata mereka menghindari persoalan. Mereka memilih diam, meski melihat. Kenapa mereka takut? Seandainya kesaksian mereka akan mengungkap kebenaran? Mengapa mereka takut?
Pertanyaan saya rupanya meluas. Ada banyak kejadian tidak benar namun dibiarkan, dianggap tidak pernah ada, dianggap tidak ada yang melihat. Yang mengetahui pura-pura tidak tahu, yang melihat pura-pura tidak melihat. Alasannya, dari pada mendapat kesulitan.
Bahkan ada yang menjawab dengan sedikit putus asa, “halah, meski kami memberi kesaksian yang benar, belum tentu kesaksian kami diterima dan dinilai dengan benar”. Tentu sangat mengenaskan jika kebenaran tidak bisa diungkap hanya karena orang-orang yang melihat kebenaran dihinggapi rasa takut atau ditakut-takuti.
Mas, sekarang ini sulit membedakan saksi, tersangka, terdakwa, dan terpidana. Maka kalau bisa memilih, lebih baik tidak menjadi apa-apa. Meski tahu mendingan berlaku seolah-olah tidak tahu. Kata orang yang lain lagi.
Teman saya tiga tahun meninggal karena kecelakaan, meski saya tahu apsti hidup ini bukanlah sebuah kecelakaan. Saya sadar ia telah melewati banyak hal indah dan susah di dunia ini. Saatnya dia sekarang menikmati kebahagiaan bersama Sang Khalik. Mungkin dia sekarang tidak merepotkan lagi penyebab kecelakaannya dulu. Mungkin dia sekarang tersenyum dan berkomentar, “Ris, ga usah bingung. Biarlah pengalamanku menjadi pelajaran bagimu. Namun jangan pernah takut berbuat yang baik dan benar”.
Teman, jika engkau telah berbahagian doakan aku ya. Setiap ulangtahunku, namamu tetap kuingat, Egidius Yuflosponto,o.carm.


Comments

Popular Posts