GARAM dan TERANG

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. … Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Mat 5:13-16)

Dua hal yang dinyatakan Yesus ini sungguh luar biasa. Yesus tidak mengatakan agar kita menajdi garam dan menjadi terang. Yesus mengatakan bahwa kita adalah garam dan terang. Garam dan terang adalah hal yang baik, maka hal baik pulalah yang mestinya kita buat.
Menjadi garam dan terang berarti harus berani menyuarakan yang benar tatkala dunia mulai berlaku tidak benar. Ada satu kisah menarik berkaitan dengan hal ini.
Tanggal 17-22 Maret 2009, Paus Benediktus XVI melakukan kunjungan ke Afrika. Di sana beliau membuat satu pernyataan yang ‘mengguncang dunia’. Beliau mengatakan bahwa masalah AIDS di Afrika tidak bisa diselesaikan dengan uang saja atau dengan pembagian kondom gratis. Bahkan kondom hanya akan memperparah keadaan.
Peryataan Paus ini langsung diprotes oleh banyak pihak, terutama oleh Negara-negara yang masyarakatnya banyak mempraktikkan seks bebas. Sebagai orang katolik saya bangga bahwa Paus mengeluarkan pernyataan ini. Saya bangga karena pernyataan itu menegaskan bahwa Gereja Katolik menjunjung tinggi nilai perkawinan. Seks bukanlah barang mainan, tetapi sesuatu yang sungguh bernilai luhur. Maka praktik seks bebas yang berdampak pada penyakit AIDS hanya bisa dilawan dengan kesetiaan dalam hidup keluarga. Kondom tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan akan memperparah.
Sikap Paus yang berani menyampaikan kebenaran adalah lambang perannya sebagai garam dan terang. Dengan mengatakan itu semua mata memandang beliau, melihat bahwa masih ada kebenaran. Sekarang menjadi tugas kita untuk juga berani bertindak yang benar, mengatakan yang benar, dan berpikir yang benar. Dengan itu banyak orang akan melihat mana yang benar dan memuliakan Bapa di surga.



Comments

Popular Posts