AIR

Air adalah bagian penting dalam hidup manusia. Ia dibutuhkan, namun kerap pula membawa petaka. Tidak perlu disebutkan betapa pentingnya air bagi manusia. Sebaliknya beberapa data bisa kita ungkap untuk mengingat betapa berbahayanya air.

Ada kisah legendaries mengenai air, yaitu air bah Nuh. Dikisahkan seluruh bumi tenggelam oleh air bah itu. Air bah sebagai sebuah hukuman atas kedosaan umat manusia. Ada juga kisah air yang melegenda, meski bukan malapetaka, yaitu air laut yang ‘dibelah’ oleh Musa.
Pengalaman hidup kita di Indonesia air dan banjir sepertinya bukan hal yang asing. Setiap musim hujan tiba Jakarta senantiasa mengalami banjir, bahkan ada banjir lima tahunan. Peristiwa memilukan Desember 2004 tidak akan terlupakan, tsunami di tanah rencong. Semua kejadian itu mengingatkan kita untuk berefleksi atas setiap musibah yang terjadi. Kemarin kita dikejutkan dengan jebolnya tanggul Situ Gintung. Apa yang mesti kita refleksikan.
Refleksi bukan untuk mencari siapa yang salah, namun belajar untuk memperbaiki diri. Ada yang perlu dibenahi, cara bergaul kita dengan alam, cara kita merawat alam, ada banyak yang mesti dibenahi. Mungkin kita kurang bersahabat dengan alam sehingga tidak peka lagi. Mungkin kita kurang menjaga sarana penunjang pelestari air juga fasilitas-fasilitas penampung air.
Korban telah jatuh. Mungkin masih akan jatuh lagi. Kiranya Tuhan memaafkan kita karena lalai menjaga alam dan segala penunjangnya. Semoga saudara-saudara kita yang telah menjadi korban mendapatkan istirahat yang kekal. Kepada banyak keluarga yang kehilangan sanak kerabat dan segenap rumah dan kekayaan, semoga diberi ketabahan yang mendalam. Kiranya banyak hati tergerak membantu meringankan segala beban derita.
Turut berduka dari hati yang dalam. Tuhan memberkati.


Comments

Popular Posts